Category Archives: Uncategorized

BAGAIMANA HIDUP BERSAMA MASALAH

Masalah atau problem muncul keberadaannya seiring dengan dimulainya
kehidupan. Yang sering dikategorikan dengan masalah yaitu : kesulitan, hambatan, rintangan, gangguan, sakit penyakit dlsb.

Semenjak bayi sampai dengan masa dewasa, tua, bahkan sampai ajal menjemput masalah ada setiap hari.

Ada proses yang membentuk manusia untuk lebih bisa bersahabat dengan masalah. Saat balita manusia belum punya kemampuan mengatasi masalahnya sendiri, maka itu ditanggung oleh orang tuanya, misal menyuapi atau menyusui ketika bayi menangis karena merasakan masalah lapar atau haus, memandikan dst.

Seiring bertambah usianya, seorang anak mulai perlahan-lahan belajar mengatasi masalahnya dan butuh waktu yang sangat panjang bagi seseorang untuk dapat mengatasi sebagian besar masalahnya dan inilah yang disebut mandiri ketika usia sudah dewasa.

Saat TK dan SD seorang anak masih terus merepotkan orang tuanya hanya untuk masalah belajar dan mengerjakan PR, saat SMP orang tua
dipusingkan dengan kenakalan anak dan permasalahan dengan teman-teman kelasnya, saat SMA masalahnya berbeda lagi dan saat kuliah juga masalah lain terus terjadi, demikian juga di usia bekerja dan berumah tangga.

Namun apakah setiap orang dewasa sanggup dengan tenang mengelola dan
mengatasi masalahnya ? TIDAK.

Lihatlah saja disekitar kita sehari-hari. Banyak orang yang lari dari masalah karena putus asa sementara yang lainnya selalu uring-uringan ketika datang masalah dalam hidupnya, meskipun itu hanya masalah kecil saja seperti tiba-tiba turun hujan atau jalan macet atau menghadapi anaknya yang rewel.

Apa saja faktor penentu kondisi mental seseorang sehingga mampu atau tidak di dalam menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya :

  1. BAGAIMANA MEYAKINI DIRI SENDIRI
    Imprint atau keyakinan yang terbentuk dari masa kecil tentang kemampuan diri sendiri sangat berpengaruh. Karenanya ada yang punya percaya diri yang baik dan dengan smart mencari cara untuk mengatasi dan menyelesaikan masalahnya, tetapi sementara yang lainnya selalu kalah sebelum berusaha, bagi kelompok ini hanya orang lain sajalah yang dianggapnya mampu sehingga sering bergantung pada orang lain.
  2. CARA PANDANG TERHADAP MASALAH
    Ada perbedaan cara memandang masalah antara typical orang sukses dan typical orang gagal. Orang sukses menganggap masalah adalah batu pijakan yang diinjaknya untuk terus berproses dan bertumbuh dari bodoh menjadi pintar, dari miskin menjadi kaya, dari lemah menjadi lebih kuat.
    Orang gagal selalu ciut, takut, sedih, jengkel dan marah saat bertemu dengan masalah sebab menganggap masalah adalah sebuah penderitaan dan musibah. Mereka berdoa kiranya Tuhan membebaskan dirinya dari masalah apapun. Padahal kondisi yang diminta itu mustahil adanya.
  3. PENGALAMAN MASA LALU.
    Perjalanan hidup melewati pengalaman-pengalaman yang bisa menimbulkan akumulasi perasaan-perasaan positif maupun negatif. Trauma-trauma masa lalu sering membuat seseorang merasa tidak dapat berbuat apa-apa dan kemudian justru memilih tenggelam dalam tumpukan masalahnya, sebagian lagi alergi dan selalu menghindari kesulitan apapun dalam hidupnya yang dianggap beban dan semakin menjadi malas.
  4. COPY PASTE ATAU MENIRU ORANG SEKITAR
    Sebagian orang mengcopy paste mulai dari orang tuanya atau orang-orang terdekat lainnya tentang bagaimana sikap, cara dan kemampuan mereka itu menghadapi masalah atau kesulitannya. Contoh dari orang tua sebagai figur panutan ini sangat mempengaruhi anaknya dan copy paste sering terjadi di level bawah sadar alias tidak disengaja sepenuhnya.
  5. BAGAIMANA SESORANG MENGHARGAI HIDUPNYA
    Rasa syukur seseorang akan anugerah hidupnya dari Tuhan dan tingkat spiritual mempengaruhi bagaimana sikapnya menghadapi kehidupan. Mereka yang tebal rasa syukurnya dalam kekurangan dan kesulitan sekalipun tetap berusaha tanpa mengeluh, tetapi mereka yang kurang rasa syukurnya selalu mengeluh ketika ada masalah
    Inilah cara berdoa yang berbeda :

    “ Tuhan muluskanlah jalan hidupku dan jauhkanlah hamba Mu ini dari kesulitan atau masalah apapun”
    “ Tuhan berikanlah hamba Mu ini ketabahan, kekuatan dan keuletan agar sanggup menghadapi setiap kesulitan dan masalah sehingga Engkau mampukan hamba Mu ini menjadi pribadi yang tangguh dan sanggup membantu banyak orang “

    Doa yang benar adalah doa seseorang yang siap menerima konsekuensi hidup, sebab sesungguhnya permasalahan adalah bagian dari proses kehidupan jadi mustahil kita yang hidup di muka bumi ini mau hidup tanpa masalah, tanpa kesulitan, rasa sakit, atau kondisi yang tidak diinginkan.

    Maka berdoalah dan berusahalah . Jika itu saja belum cukup gunakan metoda ilmiah Hypnotherapy yang sangat efektif membantu anda BERUBAH.

Kematangan Dibutuhkan Dalam Membaca Buku Motivasi

Anda tentu menemukan banyak buku tentang kemampuan bawah sad­ar yang luar biasa bahkan ada yang menul­is sebagai INFINITE MIND, tanpa batas.
Buku-buku ditulis ol­eh Penulis dengan ko­nten dan gaya bahasa­nya masing2, tujuan Penulis adalah membe­rikan kesadaran pada Pembaca untuk mengg­unakan Pikiran (baca : Pikiran bawah sad­ar) nya agar dapat mewujudkan segala hal terbaik dan paling sukses dalam hidupny­a.
Lalu bagaimana hasil­nya ?



Seseorang yang memba­ca buku, khususnya buku-buku pengembangan diri, tentunya mer­eka yang termasuk da­lam kelompok orang yang suka membaca dan menyerap apa yang dibacanya, dengan mod­al kecerdasan dan ke­arifan pikiran masin­g-masing.

Selama saya praktek, saya memikirkan dal­am-dalam tentang sej­auh mana ilmu Pikira­n, termasuk Hypnothe­rapy ini dapat berma­nfaat bagi hidup kit­a.
Banyak sekali bahkan sudah tak terhitung klien-klien saya me­ngalami perubahan po­sitif (baca : peruba­han baik), kepulihan dari kondisi pikiran yang kurang mengun­tungkan atau merugik­annya, atau yang sem­buh dari sesuatu gan­gguan kesehatan dan ini tentunya luar bi­asa. Disitulah letak kebahagian saya seb­agai Hypnotherapist Klinis.

Namun disisi lain, ketika saya bertemu dengan orang-orang​ muda, khususnya rema­ja atau seseorang ya­ng belum matang dalam mencerna apa yang dibacanya, saya menj­umpai ada sebagian dari mereka yang kura­ng proporsional dalam menterjemahkan tul­isan-tulisan tersebu­t. Kadang ada yang hanya menelan mentah-­mentah satu hal tanpa mempertimbangkan aspek-aspek lain yang terkait dan dibutuh­kan dalam kehidupan ini.

Contoh saja :

Seorang anak yang se­telah mendengar tent­ang kemampuan pikiran mewujudkan suatu kesuksesan kemudian malah berhenti dari kuliahnya, celakanya karena menganggap di­rinya sudah hebat dan tidak membutuhkan seorang pembimbing macam dosen yang meng­ajarnya.
Seorang anak yang ke­mudian “mengajari” orang tuanya bahwa or­ang tuanya salah seb­agai orang tua, kemu­dian segala tindakan orang tuanya dinilai oleh anak nya yang sudah banyak membaca MIND POWER ini seh­ingga anak menempatk­an diri lebih superi­or dari orang tua.
Seorang karyawan gol­ongan yang level nya masig staf biasa, kemudian justru bersi­kap arogan setelah membaca sebuah buku yang isinya mengajari untuk berpikir besa­r. Berpikir, berkata, bersikap besar dia­rtikannya sebagai sa­h-sah saja bertingkah sombong kepada Rek­an-Rekan kerjanya, bahkan atasannya.
Seseorang yang kemud­ian justru PLAYING GOD setelah banyak me­mbaca buku-buku tent­ang hebatnya Pikiran Bawah Sadar, lupa bahwa dirinya hanyalah makhluk Ciptaan Tu­han
Saudaraku semua, Anda tentu setuju dengan pendapat dan naseh­at saya ini, bahwa :

Sehebat apapun sebuah ilmu tetap memiliki keterbatasan, term­asuk ilmu Pikiran.
Semua manusia yang sangat pintar, cerdas dan ahli sekalipun tetap membutuhkan ma­nusia lain dalam hid­upnya, untuk itu har­us tetap menjaga nil­ai-nilai kebajikan, kesopanan, kerendahan hati
Dalam membaca dan ke­mudian mencerna isi sebuah buku, termasuk buku-buku motivasi dan pengembangan di­ri, termasuk didalam­nya buku apapun yang mempelajari metode-­metode pemberdayaan diri​ atau empowerme­nt yang disajikan de­ngan banyak ragam tu­lisan,​ Pembaca harus menggunakan kemata­ngan dalam memaknai kemudian diharapkan bisa bijak dalam men­gaplikasikannya dalam kehidupannya, sehi­ngga membuahkan hasil yang baik, baik ba­gi diri sendiri maup­un bagi orang-orang disekitarnya, tidak justru malah mengaba­ikan nilai-nilai dan batasan lain yang justru sangat penting dalam hidupnya.
Seorang Master bukan kemudian mendekati atau memiliki kemamp­uan Tuhan, melainkan paham seberapa jauh ilmunya dapat diopt­imalkan dan sampai batas mana membutuhkan keahlian lain.
Salam sukses dalam harmoni.